(0362) 3302024
dlh@bulelengkab.go.id
Dinas Lingkungan Hidup

MENGURAI PROBLEMATIKA SAMPAH: TANTANGAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA BENGKALA

Admin dlh | 30 Maret 2026 | 849 kali

  MENGURAI PROBLEMATIKA SAMPAH: TANTANGAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA BENGKALA
Oleh :
I Ketut Diarta Putra, S.Si., M.Si

Kabupaten Buleleng merupakan kabupaten terluas di Provinsi Bali, dengan luas wilayah 1.365,88 Km2 atau 24,25% dari jumlah luas Provinsi Bali sehingga menjadikan Buleleng memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar. Kabupaten Buleleng juga mempunyai penduduk terbanyak, dimana pada tahun 2025 jumlah penduduk di Kabupaten Buleleng sebanyak 832.299 jiwa (BPS, 2025). Pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk di Kabupaten Buleleng merupakan fenomena yang tidak terelakkan dalam dinamika pembangunan daerah yang sudah tentu akan berdampak pada kualitas lingkungan khususnya terhadap timbulan sampah. Peningkatan jumlah penduduk berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah sehingga jika tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan lingkungan yang baik maka akan menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius.
Saat ini permasalahan sampah merupakan isu lingkungan yang semakin kompleks di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Pengelolaan Sampah di Kabupaten Buleleng pada tatanan masyarakat sebagian besar penanganannya masih pada pendekatan akhir (end-of-pipe). Salah satu fasilitas dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Buleleng adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang terletak di Desa Bengkala Kecamatan Kubutambahan.
Berdasarkan Peta Jalan Akselerasi Penuntasan Pengelolaan Sampah Nasional Tahun 2025-2026 oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng Tahun 2025, ketinggian timbunan sampah di TPA Bengkala sudah mencapai kurang lebih 16 M dari permukaan tanah, volume sampah yang masuk ke TPA Bengkala sampai akhir tahun 2024 rata-rata 466 M3 /hari dan sampah masuk dalam setahun 170.139 M3 (56.145,87 ton). Dengan asumsi setiap individu menghasilkan timbulan sampah 0,5 kg/orang per hari (SNI no. 39831995) dan 20% sampah dari fasilitas umum dari timbulan sampah,
maka volume timbulan sampah di TPA Bengkala diperkirakan berjumlah 487,153 ton/hari. Dari produksi tirnbulan sampah yang ada di Kabupaten Buleleng, setelah dilakukan analisis diketahui bahwa komposisi sampah tersebut terdiri dari 72,41% merupakan sampah sampah organik dan sisanya 27,59% anorganik. Sampah yang masuk sebagian besar berasal dari aktivitas rumah tangga dan didominasi oleh sampah organic sehingga berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan teknis dalam pengelolaannya.
Tantangan Pengelolaan Sampah di TPA Bengkala
Pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan aktivitas ekonomi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan peningkatan volume sampah secara signifikan. Volume sampah yang terus bertambah tidak selalu sebanding dengan kapasitas pengolahan yang tersedia di TPA Bengkala. Akibatnya, sampah sering kali menumpuk dan menimbulkan potensi pencemaran lingkungan. Berbagai kendala yang menjadi permasalahan krusial dalam pengelolaan sampah di TPA Bengkala diantaranya adalah keterbatasan sarana dan prasarana pengolahan sampah, koordinasi dan kolaborasi antar lembaga yang masih belum optimal dan masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah turut serta memperumit permasalahan sampah di Kabupaten Buleleng.
Jumlah sampah yang terus meningkat, kapasitas lahan menjadi semakin terbatas sehingga berpotensi menimbulkan kondisi over capacity. Penumpukan sampah dalam jumlah besar yang ada di TPA Bengkala akan berpotensi dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pencemaran tanah, air, serta udara akibat adanya emisi gas metana. Gas metana dapat memicu terjadinya kebakaran di area TPA Bengkala. Apabila terjadi kebakaran maka proses pemadaman akan sangat sulit dan perlu waktu yang relatif lama untuk mengatasinya dan disisi lain akibat yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut akan berdampak pada pencemaran udara (asap) sehingga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Oleh karena itu sampah yang masuk ke TPA Bengkala harus segera ditangani dengan cepat dan tepat dengan sarana dan prasarana yang memadai.
Fasilitas operasional alat berat berupa Bulldozer dan Excavator serta Dump Truck, mempunyai peran yang sangat vital dalam melaksanakan penanganan sampah di TPA Bengkala, karena dalam rangka mengoptimalisasikan pengelolaan sampah sangat bergantung pada ketersediaan sarana operasional tersebut karena ketika alat berat mengalami kerusakan atau tidak memadai maka proses pengolahan dan penataan sampah menjadi terhambat sehingga akan dapat memperparah kondisi penumpukan/timbulan sampah di TPA Bengkala.
Strategi Pengelolaan Sampah di TPA Bengkala
Pengelolaan sampah yang efektif tidak dapat hanya bertumpu pada satu tahapan saja, melainkan memerlukan sinergi yang berkesinambungan. Berbagai upaya pengelolaan telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, upaya dimaksud adalah dengan menerapkan berbagai metode pengelolaan sampah yaitu pengelolaan sampah yang terbagi atas 3 (tiga) bagian terdiri atas pengelolaan sampah dibagian hulu, dibagian tengah dan sampai dengan dibagian hilir.
Pengelolaan sampah pada bagian hulu dilakukan dengan menjalankan beberapa program yaitu melalui kampanye kantor ramah lingkungan (Eco Office), penggerakan sirkular ekonomi dengan dibentuknya Bank Sampah, mengimplementasikan hasil pengolahan sampah organik di area yang dikelola oleh Dinas lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng yaitu di Singaraja Smart Agrocity (SSA) dan menerapkan pengolahan sampah organik seperti komposting dan eco enzyme bersama komunitas serta pengumpulan dan pengangkutan sampah yang sudah terjadwal. Sedangkan untuk pengelolaan sampah pada bagian tengah telah dilakukan dengan program Tempat Pengolahan Sampah -Reduce, Reuse, Recycle. (TPS3R). TPS3R yang telah dibangun berlokasi dibeberapa Desa/Kelurahan di wilayah Kabupaten Buleleng. Sampai saat ini TPS3R yang telah dibangun berjumlah 58 unit yang tersebar di 9 Kecamatan. Selanjutnya untuk pengelolaan sampah pada bagian hilir melalui pelaksanaan pengangkutan sampah yang masuk ke TPA Bengkala yang didasarkan atas ketentuan yang telah ditetapkan (terjadwal).
Dalam menghadapi tantangan dan permasalahan pengelolaan sampah di TPA Bengkala tentunya diperlukan strategi yang lebih sistematis dan berkelanjutan agar memastikan pengelolaan sampah yang lebih efektif dan efisien. Salah satu strategi utama yang saat ini sedang gencar dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng adalah dengan mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya sehingga upaya ini dapat mengurangi jumlah sampah yang harus dibawa ke TPA Bengkala.
Upaya lain yang saat ini secara masif telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng adalah dengan pendekatan preventif dan edukatif yang bertujuan menggungah kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya. Langkah ini dilakukan untuk mendorong semua elemen masyarakat dan stakeholder terkait untuk turut aktif melakukan kegiatan bersih-bersih sampah (gotong royong) yang secara rutin dilakukan pada area sungai, pantai, pasar dan kawasan fasilitas umum lainnya. Selain kegiatan bersih-bersih sampah juga dilakukan kegiatan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat dan pelajar serta pelaku usaha di Kabupaten Buleleng. Kegiatan ini secara rutin dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik.
TPA Bengkala memiliki peran strategis dalam sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Buleleng sehingga diharapkan pengelolaan sampah di TPA Bengkala dapat berjalan lebih efektif dan mampu mendukung terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang optimal dan didukung oleh semua pihak, TPA Bengkala tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemrosesan akhir, tetapi juga sebagai pusat pengelolaan sampah yang modern, berwawasan lingkungan, dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Buleleng.