Secara
filosofi Ogoh-ogoh sendiri melambangkan bhuta kala, yaitu energi negatif yang
harus dinetralisir demi menciptakan keseimbangan alam semesta. Prosesi
pengarakan ogoh-ogoh yang diiringi semangat kebersamaan menjadi simbol
pembersihan diri dan lingkungan secara spiritual. Namun, di balik kemeriahan
tersebut, potensi timbulan sampah seringkali menjadi tantangan tersendiri, mulai
dari sisa bahan ogoh-ogoh hingga sampah konsumsi selama kegiatan berlangsung.
Singaraja sebagai kota yang terus berkembang menghadapi tantangan peningkatan
volume sampah, sehingga pendekatan berbasis budaya menjadi salah satu strategi
yang efektif untuk membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat secara luas.
Pemerintah
kabupaten Buleleng melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng senantiasa
bersinergi dan berkolaborasi untuk memastikan bahwa setiap kegiatan budaya
tidak meninggalkan dampak negatif bagi lingkungan. Aksi bersih-bersih yang
dilakukan saat pengerupukan sesudah pecaruan yang juga dibarengi pula dengan
pawai ogoh-ogoh merupakan kegiatan turin yang dilaksanakan oleh Dinas
lingkungan hidup Kabupaten Buleleng. Kegiatan bersih-bersih dilaksanakan dengan
pengumpulan sampah yang berserakan khususnya minuman mineral berupa botol
maupun gelas dari bahan plastik, kemudian sampah-sampah yang telah terkumpul
diangkut atau di bawa pada kendaraan pengangkut sampah yang telah disiapkan di
setiap tempat atau wilayah dan selanjutnya dibawa ke tempat pengelolaan
selanjutnya.
Kolaborasi
antara budaya dan lingkungan ini harus mencerminkan kesadaran dan semangat
untuk terus menjaga tradisi dengan tidak boleh mengabaikan keberlanjutan alam.
Dengan semangat gotong royong dan kearifan lokal, “Ogoh-Ogoh dan Aksi Bersih”
menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dapat menjadi motor penggerak perubahan
positif. Tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat komitmen
bersama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Ke depan,
diharapkan gerakan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi daerah
lain yang ada di kecamatan maupun desa dalam mengintegrasikan nilai budaya
dengan aksi nyata pelestarian lingkungan. Lebih dari sekadar kegiatan seremonial,
gerakan ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda,
tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan agar tetap bersih dan
sehat.
Melalui
semangat kebersamaan dan gotong royong, “Singaraja Bersinar Lewat Ogoh-Ogoh
Tanpa Sampah” bukan hanya slogan, tetapi gerakan nyata menuju kota yang lebih
bersih, sehat, dan berkelanjutan. Harapannya, aksi bersih-bersih ini dapat
terus dipertahankan dan menjadi inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas dalam
mengemas tradisi budaya yang selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan.