INOVASI
URBAN FARMING (SINGARAJA SMART AGROCITY)
Oleh:
I
Made Mayun Maha Diputra, S.Hut., M.Agr.Sc., M.Sc.
Berawal dari keberhasilan
inovasi TOSS yang ada di Kabupaten Klungkung, Pemerintah Kabupaten Buleleng
melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng melakukan kunjungan studi
tiru untuk mengetahui, mempelajari, dan mengembangkan inovasi TOSS sehingga
bisa diterapkan di Kabupaten Buleleng yang juga disesuaikan dengan kondisi dan
kebutuhan guna menunjang tugas dan fungsi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng
dan berdampak pada Masyarakat Buleleng. Berbekal ilmu dan informasi yang
diperoleh dari TOSS maka diciptakan inovasi pengelolaan sampah di Kabupaten
Buleleng, yaitu Inovasi Urban Farming yang saat ini dikenal dengan Singaraja
Smart Agrocity. Inovasi ini bangun dengan memanfaatan lahan aset Pemkab.
Buleleng yang sebelumnya merupakan lahan tertidur yang tidak dikelola. Melihat
adanya potensi lahan yang dapat dimanfaatkan tersebut, maka Dinas Kabupaten
Buleleng berinisiatif untuk memaksimalkan fungsi lahan tersebut sebagai tempat
dibangunnya inovasi dan ini sangat menguntungkan karena terletak di
tengah-tengah Kota Singaraja.
Singaraja
adalah kota yang memiliki cukup banyak taman dan ruang terbuka hijau yang
sangat memberikan banyak manfaat dari aspek keindahan dan keasrian yang dapat
mempercantik Kota Singaraja. Akan tetapi, dalam pengelolaan dan pemeliharaannya
dihasilkan sampah organik yang cukup banyak, mulai dari sampah daun, ranting,
rumput, dan sisa organik lainnya. Sampah organik ini sangat berpotensi dan
berpeluang untuk dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bermanfaat, yaitu
menjadi pupuk organik. Berawal dari sinilah, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten
Buleleng berinisiatif untuk mengolah sampah organik tersebut, termasuk juga
sampah organik lainnya yang bersumber dari Kota Singaraja. Untuk memberikan
nilai manfaat yang lebih dari produk pupuk yang dihasilkan, maka Dinas
Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng mengambil langkah untuk bisa
mengaplikasikan pupuk organik tersebut pada tanaman hortikultura. Alhasil,
dibangunlah Singaraja Smart Agrocity.
Singaraja
Smart Agrocity dibangun pada lahan kurang lebih seluas 15 are dan dalam proses
pengerjaannya, pada lahan ini dibuat banyak petak yang tersusun atas tumpukan
bata sebagai wadah media tanam untuk penanaman tanaman sayur. Adapun sumber
dana yang digunakan untuk membangun Singaraja Smart Agrocity murni berasal dari
dana TJSL (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan) sehingga tidak membebani Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Buleleng. Dana TJSL yang diberikan
oleh PT. Pelindo (Persero) di tahun 2022 ini sebagai bentuk tanggung jawab
perusahaan untuk berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan.
Singaraja
Smart Agrocity dijadikan sebagai tempat edukasi kepada masyarakat terkait
pengelolaan sampah khususnya pemanfaatan sampah organik perkotaan menjadi pupuk
organik, sehingga sampah organik perkotaan tidak langsung dibuang ke Tempat
Pemprosesan Akhir (TPA) yang berlokasi di Desa Bengkala. Masyarakat dapat
belajar ke tempat ini terkait proses pembuatan pupuk kompos serta tata cara
pengaplikasiannya pada tanaman pertanian dalam hal ini sayur-mayur. Singaraja
Smart Agrocity merupakan salah satu bentuk implementasi dari Peraturan Gubernur
Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, dimana
telah dilakukan upaya pengurangan sampah organik perkotaan sehingga dengan
keberadaan Singaraja Smart Agrocity memberikan alternatif solusi dari
permasalahan sampah organik di perkotaan.
Lahan Singaraja Smart Agrocity ini ditata sedemikian rupa agar memberikan kesan yang bersih dan asri sehingga masyarakat merasa nyaman saat berkunjung untuk proses edukasi pengelolaan sampah. Selain mewujudkan Kota Singaraja yang lebih bersih melalui pemanfaatan sampah organik, dengan keberadaan Singaraja Smart Agrocity dapat juga memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan masyarakat di perkotaan. Masyarakat juga dapat memasak sayur di Singaraja Smart Agrocity jika waktu panen sayur tiba.
Keberadaan Singaraja Smart Agrocity merupakan salah satu sarana alternatif edukasi kepada masyarakat dan anak-anak yang berkunjung terkait pengelolaan sampah khususnya pemanfaatan sampah organik perkotaan yang diolah menjadi pupuk organik, sehingga sampah organik yang dihasilkan tidak langsung dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Desa Bengkala. Lahan Singaraja Smart Agrocity ditata sedemikian rupa dan ditanami dengan tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan baik pada media tanah maupun media air melalui sistem hidropinik. Dengan ini yang nantinya masyarakat khususnya anak-anak dapat langsung belajar menanam dan memanen, tentunya ini merupakan cara yang kreatif dan interaktif untuk membantu mereka belajar tentang alam dan lingkungan. Melalui kegiatan menanam dan merawat tanaman, anak-anak dapat memperoleh pengetahuan tentang proses pertumbuhan ekosistem dan secara tidak langsung juga mengajarkan karakter cinta lingkungan kepada anak sejak dini, yang membantu mereka menjadi individu yang bertanggung jawab, peduli, dan sadar lingkungan.