(0362) 3302024
dlh@bulelengkab.go.id
Dinas Lingkungan Hidup

REFLEKSI BENCANA ALAM DI BANJAR SEBAGAI SINYAL KUAT BAHWA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN YANG TERGANGGU DAN MENJADI MOMENTUM UNTUK BERBENAH

Admin dlh | 30 Maret 2026 | 853 kali

REFLEKSI BENCANA ALAM DI BANJAR SEBAGAI SINYAL KUAT BAHWA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN YANG TERGANGGU DAN MENJADI MOMENTUM UNTUK BERBENAH

Oleh :

I Ketut Diarta Putra, S.Si., M.Si

Bencana banjir bandang yang terjadi di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali pada tanggal 6 Maret 2026 bukan sekadar peristiwa yang datang dan berlalu tanpa makna. Di balik kejadian ini tentunya tersimpan pesan penting bagi kita semua tentang bagaimana hubungan manusia dengan alam yang semakin hari semakin rentan. Bencana alam yang telah menelan korban jiwa sebanyak 4 (empat) orang dan 253 kepala keluarga terdampak bencana tersebut bukan lagi sekadar peristiwa alam biasa, melainkan sinyal kuat bahwa keseimbangan lingkungan mulai terganggu. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari aktivitas manusia yang terus menekan daya dukung lingkungan. Peristiwa ini seharusnya menjadi refleksi mendalam bahwa keseimbangan lingkungan tidak boleh diabaikan.

Kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan perubahan, oleh karenanya kesadaran kolektif masyarakat sangat diperlukan dalam menjaga lingkungan. Curah hujan yang tinggi memang menjadi faktor alamiah, namun kerusakan lingkungan seperti penebangan hutan, alih fungsi lahan, serta buruknya kebersihan sungai dan saluran air turut memperparah dampak yang terjadi. Sungai yang tersumbat sampah, lahan resapan yang berkurang, serta kawasan hijau yang semakin sempit menjadi pemicu utama bencana yang seharusnya bisa diminimalkan. Penegakan aturan terkait lingkungan, pengelolaan sampah berbasis sumber, serta edukasi kepada masyarakat harus terus ditingkatkan agar dampak bencana dapat ditekan. Alam memiliki batas toleransi, dan ketika batas itu terlampaui, maka dampaknya akan dirasakan oleh manusia sendiri.
Bencana alam di Banjar sejatinya bukan hanya persoalan alam, melainkan juga cerminan perilaku manusia. Ketika lingkungan tidak lagi dijaga dengan baik, maka alam akan “memberi peringatan” melalui berbagai bentuk bencana. Dalam konteks ini, Banjar menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan akan membawa konsekuensi serius bagi kehidupan masyarakat. Hal yang sangat fundamental dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan adalah akan pentingnya kesadaran dan prilaku
masyarakat terhadap alam lingkungan. Bencana alam di Banjar bukan saja tentang pelajaran yang harus dipetik tetapi juga sebagai panggilan untuk segera menjaga alam dengan sebaik baiknya. Alam telah memberikan peringatan, dan kini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjawabnya dengan tindakan nyata. Jika tidak, maka bukan tidak mungkin bencana yang lebih besar akan terus menghantui di masa depan.
Peran masyarakat sangat penting dalam menjaga keseimbangan alam, karena upaya pelestarian tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Atas kejadian ini menuntut adanya perubahan pola pikir dan tindakan. Kesadaran kolektif harus mulai dibangun, mulai dari hal sederhana seperti tidak menebang pohon, tidak melakukan alih fungsi kawasan pada area resapan air, tidak membuang sampah sembarangan, hingga mendukung kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Refleksi ini mengajak kita semua untuk lebih bijak dalam memperlakukan alam. Menjaga lingkungan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan generasi yang akan datang. Jika kita tidak mulai dari sekarang, maka jangan heran bila terjadi bencana serupa di wilayah lainnya dan bisa jadi dalam skala yang lebih besar dan kita tidak akan pernah tahu kapan dan dimana akan terjadi dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu. Bencana alam di Banjar hendaknya tidak hanya dikenang sebagai musibah, tetapi juga sebagai alarm untuk segera berbenah.