Senin, 15 Desember 2025, Penyuluh Lingkungan Hidup melaksanakan kegiatan pendampingan dan peningkatan kapasitas pengelolaan sampah di TPS 3R Desa Pejarakan dan TPS 3R Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak. Kegiatan ini bertujuan untuk memantau kondisi pengelolaan sampah di lapangan, mengidentifikasi kendala yang dihadapi pengelola, serta mendorong optimalisasi pengelolaan sampah berbasis sumber di tingkat desa. Kunjungan pertama dilakukan ke TPS 3R Sanker Bersehati Desa Pejarakan dan diterima langsung oleh Ketua TPS 3R, Bapak Gede Dandi. Berdasarkan hasil koordinasi dan peninjauan lapangan, TPS 3R Sanker Bersehati masih aktif melayani pengangkutan sampah di sembilan dusun dengan jumlah pelanggan sekitar 300 pelanggan yang terdiri dari rumah tangga, toko, sekolah, villa, dan hotel. Volume sampah yang masuk ke TPS 3R rata-rata sekitar 4 m³ per hari, namun kondisi sampah masih tercampur. Saat ini pengelolaan TPS 3R mengalami penurunan yang ditandai dengan menurunnya partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah, berkurangnya produksi kompos setiap bulan, serta terhentinya dukungan pendanaan dari yayasan asing. Pihak pengelola menyampaikan rencana untuk memberikan kesempatan kepada Yayasan Biosfer Indonesia sebagai pihak pendamping yang bergerak di bidang edukasi dan sosialisasi lingkungan untuk mendampingi pengelolaan TPS 3R selama kurang lebih lima bulan hingga Mei 2026, dengan tujuan mengevaluasi program yang telah berjalan dan mengoptimalkan kembali sistem pengelolaan sampah di desa.
Kunjungan kedua dilaksanakan di TPS 3R Desa Pemuteran dan diterima langsung oleh Ketua TPS 3R, Bapak Kadek Saniarta. TPS 3R Pemuteran masih aktif mengelola sampah dengan melayani pengangkutan di tiga dusun dari total sembilan dusun. Saat ini petugas melakukan uji coba pengangkutan sampah secara langsung dari rumah ke rumah, yang sebelumnya masyarakat membawa sampah ke TPS 3R. Volume sampah yang masuk rata-rata sekitar 7 m³ per hari, dengan sekitar 30% sampah sudah terpilah, didominasi oleh sampah organik berupa sisa daun dan ranting yang berasal dari villa dan hotel. Pengolahan sampah berjalan dengan baik, di mana sampah organik diolah menjadi kompos dengan kapasitas produksi sekitar 3–5 ton per bulan. Sampah anorganik dipilah dan dijual kepada pengepul lokal dengan rata-rata 500–1.000 kg per bulan, sedangkan sampah residu dibuang ke bak LHC yang telah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup. Kendala utama yang masih dihadapi adalah rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah dari sumber, sehingga masih cukup banyak sampah yang menjadi residu. Melalui kegiatan pendampingan ini diharapkan pengelolaan TPS 3R di Desa Pejarakan dan Desa Pemuteran dapat semakin optimal, berkelanjutan, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumbernya.